Sampai Kapan Kita Harus Diam...???
Oleh : Putrinda Jalasvica
Hal yang mungkin saja selalu kau sisihkan ketika
terpikirkan, karena kamu merasa harus melakukannya. Kamu katakan pada dirimu
sendiri, “menjadi manusia baik salah satunya harus melewati yang ini” Lalu
kemudian terjadi berulang kali.
Diam bukan berarti kalah, bila kau melihat melakukannya
adalah sebuah kemenangan. Tetapi, ketika itu sudah menjadi kebiasaanmu,
bagaimana itu bukan sebuah kekalahan? Dan kemudian kau tertunduk dibawah langit
kelabu. Bertanya ‘mengapa harus aku, lagi dan lagi?’
Aku meyakini tidaklah mudah menjadi ‘si baik hati’ di segala
musim. Menjadi ‘si penyabar ‘di segala
kenyataan. Menjadi ‘si bodoh’ di dalam kebahagiaan milik orang lain. Maka dari
itu, Tuhan menciptakan perasaan agar kita bisa merasakan apa yang ‘baik’ dan
bagian ‘buruk’ mana yang harus ditinggalkan. Tapi meninggalkan yang satu ini
terkadang terasa seperti mengkhianati diri sendiri.
Kenapa kita diam? Mungkin kita melakukannya karena terpaksa.
Kita merasa terpaksa melakukannnya karena kita belum mengerti. Tapi itu bukan
terpaksa, jika akhirnya kita benar benar melakukannya. Bagiku tidak ada yang
terpaksa dalam hidup ini. Semua yang terjadi adalah sebuah porsi yang harus kau
makan dengan baik, agar tak merusak pencernaanmu.
Jika sudah terlanjur terjebak, dan tidak ada jalan keluar.
Bukan berarti kau tidak bisa menciptakan bahagia di tempat yang lain. Kau hanya
perlu belajar berkata ‘tidak’ sewaktu –waktu. Dan berani untuk bilang ‘Ini
giliranku. Kau hanya perlu menunggu giliranmu datang kembali.’
Lalu kau hanya perlu mensyukuri karena kau punya
cadangan ‘pengertian’ melebihi orang-orang disekelilingmu. Dan ketika mereka
tak cukup menghargainya, Tuhan masih melihatmu. Mungkin terdengar bodoh—tapi
percayalah menjadi pintar juga bukan hal yang melulu membuat bahagia.

kerennnnnnn....mantap
BalasHapus