TOP NEWS

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas mattis nisi felis, vel ullamcorper dolor. Integer iaculis nisi id nisl porta vestibulum.

Minggu, 06 Januari 2013

Sampai Kapan Kita Harus Diam...???



Hal yang mungkin saja selalu kau sisihkan ketika terpikirkan, karena kamu merasa harus melakukannya. Kamu katakan pada dirimu sendiri, “menjadi manusia baik salah satunya harus melewati yang ini” Lalu kemudian terjadi berulang kali.

Diam bukan berarti kalah, bila kau melihat melakukannya adalah sebuah kemenangan. Tetapi, ketika itu sudah menjadi kebiasaanmu, bagaimana itu bukan sebuah kekalahan? Dan kemudian kau tertunduk dibawah langit kelabu. Bertanya ‘mengapa harus aku, lagi dan lagi?’

Aku meyakini tidaklah mudah menjadi ‘si baik hati’ di segala musim.  Menjadi ‘si penyabar ‘di segala kenyataan. Menjadi ‘si bodoh’ di dalam kebahagiaan milik orang lain. Maka dari itu, Tuhan menciptakan perasaan agar kita bisa merasakan apa yang ‘baik’ dan bagian ‘buruk’ mana yang harus ditinggalkan. Tapi meninggalkan yang satu ini terkadang terasa seperti mengkhianati diri sendiri.

Kenapa kita diam? Mungkin kita melakukannya karena terpaksa. Kita merasa terpaksa melakukannnya karena kita belum mengerti. Tapi itu bukan terpaksa, jika akhirnya kita benar benar melakukannya. Bagiku tidak ada yang terpaksa dalam hidup ini. Semua yang terjadi adalah sebuah porsi yang harus kau makan dengan baik, agar tak merusak pencernaanmu.

Jika sudah terlanjur terjebak, dan tidak ada jalan keluar. Bukan berarti kau tidak bisa menciptakan bahagia di tempat yang lain. Kau hanya perlu belajar berkata ‘tidak’ sewaktu –waktu. Dan berani untuk bilang ‘Ini giliranku. Kau hanya perlu menunggu giliranmu datang kembali.’


Lalu kau hanya perlu mensyukuri karena kau punya cadangan ‘pengertian’ melebihi orang-orang disekelilingmu. Dan ketika mereka tak cukup menghargainya, Tuhan masih melihatmu. Mungkin terdengar bodoh—tapi percayalah menjadi pintar juga bukan hal yang melulu membuat bahagia.

1 komentar: